Rabu, 26 Oktober 2016

NOVITA PUTRI UNTARI
2014-020-043
Teknik Optimisasi
Untuk menjawab pertanyaan berapa besarnya laba yang layak untuk ditentukan oleh perusahaan, maka perlu melakukan penghitungan penentuan laba dengan teknik optimisasi (optimization technique).
Teknik ini merupakan aplikasi dari teori ekonomi yang digunakan sebagai ilmu pengambilan keputusan bagi manajer agar mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Teknik optimisasi sendiri beragam, antara lain: teknik Optimasi dengan Kalkulus, Optimisasi Multivariate, Optimisasi Terkendala (constrained optimization).
1.      Teknik optimisasi dengan kalkulus (optimization with calculus).
Sebagaimana namanya, teknik ini menggunakan perhitungan-perhitungan matematis (kalkulus).  Teknik ini digunakan untuk:
a)      menentukan nilai maksimum atau minimum output produksi yang dapat menciptakan laba maksimal. Caranya adalah menggunakan turunan atau derivasi tingkat satu dari suatu fungsi,
b)      membedakan antara nilai maksimum dan minimum. Caranya adalah dengan menggunakan turunan atau derivasi tingkat kedua.

Contoh:
Manajer suatu perusahaan tentu ingin perlu menghitung berapa laba maksimal yang dapat dicapai. Maka untuk menentukan laba maksimum tentu perlu menentukan berapa nilai revenue maksimum dan nilai cost minimum. Misalnya suatu perusahaan mempunyai fungsi permintaan TR= 100Q – 10Q2 .
Caranya adalah menderivasi fungsi TR tersebut hingga nilai derivasi atas fungsi tersebut sama dengan nol (0).
TR= 100Q – 10Q2                    diderivasi menjadi:
                turunan pertama


karena syaratnya turunan harus nol,





maka:

0 = 100-20Q
20Q = 100
Q = 5
Artinya, total penghasilan adalah 5 unit.
Karena dihadapkan pada pertanyaan apakah laba sebesar 5 unit tersebut merupakan nilai minimum atau maksimum, maka perlu mencari jawabannya dengan meneruskan perhitungan hingga turunan kedua (second derivative). Sebagaimana dijelaskan di atas, bahwa turunan kedua ini berfungsi untuk membedakan antara nilai maksimum dan nilai minimum.
Jika, TR= 100Q – 10Q2                       diturunkan I menjadi
                   
 turunan I

maka perlu diturunkan lagi menjadi:

 turunan II


Ada ketentuan yang berkaitan dengan turunan kedua, yaitu jika nilai turunannya bernilai positif (+) berarti nilai tersebut adalah nilai minimum. Sebaliknya, jika nilai turunannya bernilai negatif (-) berarti nilai tersebut adalah nilai maksimum.
Karena nilai turunan kedua bertanda negatif (-20) dan turunan pertamanya sebesar Q=5, maka berarti, atas fungsi tersebut laba minimumnya berada pada 5 unit. Jika produksinya dikurangi hingga kurang dari 5 unit maka perusahaan akan mengalami kerugian. Tentu saja produksi harus ditentukan di atas 5 unit.
Contoh II
Jika fungsi TR = 45 Q – 0,5 Q2
Maka berapa tingkat labanya dapat ditentukan, yaitu:




jadi, Q = 45

 




  Artinya, laba maksimal berada pada nilai Q = 45. Dengan demikian, jika perusahaan memproduksi melebihi 45 unit, perusahaan akan mengalami laba yang semakin berkurang. Ini berarti berlaku law of deminishing return.
Contoh lain: (dengan menggunakan fungsi marginal cost).
MC = 3Q2 –16Q + 57



jadi,     Q = 2,66




Artinya, laba minimum dicapai pada Q = 2,66.
2.      Optimasi Multivariat (Multivariate optimization).
Optimisasi multivariate merupakan proses penentuan nilai maksimum atau minimum atas suatu fungsi yang memiliki dua atau lebih variabel. Langkah yang perlu ditempuh adalah terlebih dahulu melakukan derivasi secara partial dan kemudian mengujinya dengan melalui proses maksimisasi fungsi multivariabel. Oleh karena itu sering disebut partial derivative.
Contoh-contoh yang di bahas di atas masih mengasumsikan variabel dependen hanya dipengaruhi oleh satu variabel saja. Padahal dalam realita, hubungan ekonomi seringkali menunjukkan bahwa satu variabel dependen dapat dipengaruhi oleh dua variabel bebas sekaligus atau bahkan lebih. Sebagai contoh, total revenue mungkin saja dipengaruhi (atau fungsi dari) output dan advertising secara sekaligus. Total cost dapat saja dipengaruhi oleh pengeluaran atas biaya tenaga kerja dan juga kapital. Atau, total profit mungkin dipengaruhi oleh penjualan barang X dan Y sekaligus.
Asumsi fungsi seperti itu penting sekali untuk menentukan efek marginal pada variabel terikat. Efek marginal ini perlu diukur dengan partial derivative. Yang disimbolkan dengan  (untuk membedakan dengan derivasi di atas yang disimbolkan dengan d). Pada partial derivative ini yang diderivasikan adalah variabel terikat, bukan variabel bebas.
Sebagai contoh, anggap saja total profit () merupakan fungsi dari (dipengaruhi oleh komoditi X dan Y, yang dapat ditulis sebagai berikut:
= f (X, Y) = 80X-2X2-XY-3Y2+100Y
untuk mendapat partial derivative dari maka perlu diderifikasikan dengan X (x) dan Y dianggap tetap.




Ini bertujuan untuk mengisolasi efek marjinal pada profit dari perubahan jumlah penjualan komoditi X saja (makanya Y dianggap tetap). Kemudian lakukan juga pengisolasian efek marginal profit atas Y.






Setelah tahapan itu selesai maka perlu dilanjutkan dengan memaksimisasi atau meminimisasi fungsi multivariabel. Untuk memaksimisasi atau meminimisasi fungsi multivariabel perlu  masing-masing partial derivative dipersamakan dengan nol (0) yang dilanjutkan dengan mencari nilai masing-masing variabel.
= 80X-2X2-XY-3Y2+100Y
disubstitusikan dengan model seperti ini:
80 - 4X – Y = 0
-X - 6Y + 100 = 0
agar nilai X dapat diketahui, maka persamaan yang atas dikalikan dengan -6 menjadi:
-480 + 24X + 6 Y = 0
   100 -     X  - 6Y = 0
-380 + 23 X          = 0
jadi X = 380/23 = 16,52.  Nilai X ini disubstitusikan ke persamaan Y hingga menjadi:
80 - 4(16,52)-Y = 0
jadi Y = 80 – 66.08 = 13,92
Dengan demikian, perusahaan akan mengalami profit maksimal ketika menjual 16,52 unit komoditi X dan 13,92 unit komoditi Y. Besarnya total maksimal profit dapat diketahui dengan mensubstitusikan nilai X dan Y ke dalam persamaan profit.
= 80(16,52) – 2(16,52)2- (16,52)(13,92) – 3(13,92)2 + 100(13,92)
= 1.356,52

3. Constrained Optimization

Dua teknik optimisasi yang telah di bahas di atas adalah menggunakan asumsi tidak ada kendala. Padahal, dalam praktik manajerial sangat mungkin untuk timbulnya kendala. Sehingga keinginan untuk memaksimisasi profit juga tidak sesuai yang diharapkan. Kendala-kendala tersebut dapat berupa terbatasnya kapasitas produksi, tidak tersedianya tenaga terampil, kelangkaan bahan baku, adanya masalah legal, konflik dengan lingkungan, dan sebagainya. Untuk menghitung optimisasi profit dalam kondisi terkendala, maka dapat dilakukan dengan menggunakan dua cara yaitu, dengan optimasi terkendala biasa atau dengan metode lagrangian multiplier.
Misalnya, perusahaan ingin memaksimisasi profit dengan fungsi seperti yang dibahas di atas   
= 80X-2X2-XY-3Y2+100Y
tetapi menghadapi kendala bahwa output komoditi X dan Y harus berjumlah 12. Kalau ditulis dalam persamaan menjadi X+Y = 12
Menghadapi masalah seperti itu, maka perlu ditentukan dulu nilai salah satu variabel, apakah X atau Y terlebih dulu. Anggap saja yang dicari terlebih dulu adalah nilai X, maka:
X = 12-Y
Nilai ini kemudian disubstitusikan ke dalam persamaan fungsi profit.
= 80(12-Y)-2(12-Y)2-(12-Y)Y-3Y2+100Y
   = 960 – 80Y – 2(144-24Y+Y2) – 12Y + Y2 – 3Y2 + 100Y
   = 960 – 80Y – 288 + 48Y – 2Y2 – 12Y + Y2 – 3Y2 + 100Y
   = -4Y2 + 56Y + 672
Untuk memaksimisasi fungsi profit terkendala di atas, maka hasil tersebut diderivasi tingkat pertama, menjadi:
 


jadi nilai Y diketahui, yaitu Y = 7. Nilai Y ini di substitusikan ke dalam kendala, sehingga nilai X diketahui, yaitu X = 5
X = 12 - 7 = 5. Artinya, perusahaan akan mengalami profit maksimum ketika menjual komoditi X sebanyak 5 unit dan komoditi Y sebanyak 7 unit. Dengan demikian total profitnya akan dapat diketahui, yaitu:
= 80(5) – 2(5)2 – (5)(7) – 3(7)2 + 100(7)
   = 868
Apabila dibandingkan dengan kondisi tanpa kendala yang besarnya mencapai 1.356,52, maka dengan kendala profitnya menjadi lebih kecil.

Metode Lagrangian Multiplier

Cara yang baru saja dibahas ini, dapat dilakukan dengan menggunakan metode yang agak berbeda, yaitu metode lagrangian multiplier. Metode ini mempunyai ciri khas yaitu: 1) penggunaan persamaan fungsi lagrangian yang disimbolkan dengan L mewakili variabel dependen. 2) penggunaan simbol (lambda) yang digunakan sebagai representasi kendala, yang sekaligus digabungkan ke dalam persamaan fungsi lagrangian. 3) nilai kendalanya dipersamakan dengan nol terlebih dulu.
Sebagai contoh, dengan mengulang persamaan fungsi profit yang dibahas di atas
= 80X-2X2-XY-3Y2+100Y dan kendala yang tetap sama, yaitu X+Y=12, dengan menggunakan fungsi lagrangian akan dipersamakan dengan nol menjadi:
X+Y-12 = 0
maka dengan menggunakan metode lagrangian multiplier ini akan dituliskan menjadi sebagai berikut:
L = 80X-2X2-XY-3Y2+100Y+(X+Y-12)
Untuk mendapatkan nilai maksimisasi profit, maka perlu dilakukan partial derivative atas Ldengan variabel X,Y, dan secara bergantian. Hasil dari partial derivative tersebut masing-masing perlu dipersamakan dengan nol.







Untuk mendapatkan nilai X,Y,, dan memaksimalisasi Ldan , maka perlu substraksi atas masing-masing hasil derivasi yang dipersamakan dengan nol tersebut.
100-X-6Y+= 0   dikalikan -1 menjadi 
-100+X+6Y-= 0
  80-4X-Y+ = 0
-20-3X+5Y    = 0

untuk dapat disubstraksi dengan X+Y-12=0, maka angka ini dimultiplikasi dengan angka 3 hingga menjadi:
  3X+3Y-36= 0
-3X+5Y-20= 0
       8Y-56 = 0
dengan demikian nilai Y diketahui, yaitu 56/8=7. Nilai X juga menjadi diketahui, yaitu X+7-12=0; jadi X=5. Nilai juga diketahui, yaitu = 868.
= 80(5) – 2(5)2 – (5)(7) – 3(7)2 + 100(7)
   = 868
Dengan diketemukannya nilai X, Y, , maka nilai juga dapat diketahui. Caranya dengan memasukkan angka-angka tersebut ke dalam salah satu persamaan yang mengandung unsur . Misalnya hendak dimasukkan ke dalam persamaan








nilai l ini penting untuk dterjemahkan. Nilai ini merupakan efek marginal yang menunjukkan besarnya nilai perubahan profit akibat adanya perubahan pada kendala. Dengan nilai tersebut dapat diartikan bahwa jika kendala berkurang sebesar 1 unit, maka profit akan meningkat sbesar 53 rupiah. Sebaliknya jika kendala meningkat 1 unit, maka profit akan berkurang sebesar 53 rupiah.
Referensi: Supawi Pawenang, 2016, Modul Akutansi Biaya UNIBA
NOVITA PUTRI UNTARI
2014-020-043
KARAKTERISTIK BIAYA
 Biaya Rata-rata
•         TC/Q merupakan biaya rata-rata (Average Cost)
•         Average Total Cost (ATC) sangat menentukan strategi perusahaan
•         ATC mencerminkan keunggulan kompetitif, karena di dalamnya tersirat skala ekonomis dan skope ekonomis
•         ATC linier dengan waktu dan penggunaan.
•         ATC semakin murah, maka semakin unggul di pasar.
•         ATC terendah ketika berada pada penggunaan kapasitas maksimal. Over capacity akan mengakibatkan ATC meningkat. Maka kurva ATC dapat digambarkan sebagai parabolik (berbentuk huruf U).
Biaya Marginal:
•         Biaya marginal digunakan untuk menentukan biaya yang paling rendah.
•         Marginal cost adalah biaya tambahan akibat menghasilkan satu tambahan produk lagi (MC = DTC/DQ )
•         MC dengan nilai terendah merupakan penggunaan biaya yang paling efisien.
•         MC=MR akan menghasilkan laba optimum

Keterangan Gambar:
Adanya perpotongan antara AC dan MC yang juga sama dengan tingkat harga P1 atau sama dengan MR, memberikan arti bahwa perusahaan dalam kondisi untung normal. Perusahaan dikatakan memperoleh keuntungan normal apabila hasil penjualan totalnya sama dengan ongkos total. Ongkos total di sini yang dimaksudkan adalah telah meliputi explisit cost dan implisit cost.
     Ketika harga dipasar dapat ditingkatkan menjadi P0, atau lebih besar dibanding dengan AC, maka perusahaan mengalami keuntungan yang lebih dari normal. Keuntungan dicapai ketika output produksi sebesar Q0. Besarnya keuntungan ditunjukkan oleh area persegi panjang AEP0B. 
     Laba jenis ini hanya akan bersifat jangka pendek, karena tingkat perolehan laba seperti ini akan menimbulkan daya tarik pemain baru yang kemudian menjadi pesaingnya.

Keterangan Gambar:
Gambar di atas menunjukkan bahwa tingkat harga yang berlaku di pasar lebih rendah dibanding dengan rata-rata biaya (AC) yang dikeluarkan perusahaan. Namun tingkat harga tersebut lebih besar dari rata-rata biaya variabel (AVC). Perlu diingat bahwa AVC adalah rata-rata biaya yang besarnya dipengaruhi oleh total produksi. Gambar tersebut menunjukkan bahwa perusahaan memperoleh revenue yang lebih besar dari AVC, tetapi kelebihan tersebut belum mampu menutup biaya tetapnya (AFC). Dalam kondisi seperti ini, perusahaan perlu terus beroperasi, karena kalau tidak beroperasi akan mengalami kerugian yang lebih besar lagi, yaitu sebesar biaya tetapnya.

Keterangan Gambar:
Gambar di atas menunjukkan bahwa tingkat revenue lebih rendah dari AVC. Ini berarti perolehan perusahaan tidak dapat lagi menutup ongkos produksi. Dalam kondisi seperti ini, maka operasional perusahaan perlu dihentikan. Karena kalau diteruskan akan menyebabkan semakin membengkaknya tingkat kerugian yang mengarah pada timbulnya kebangkrutan.
Referensi: Supawi Pawenang, 2016, Modul Akutansi Biaya UNIBA




Selasa, 25 Oktober 2016

NOVITA PUTRI UNTARI
2014-020-043
EKONOMI MANAJERIAL
Ekonomi manajerial adalah ilmu ekonomi yang mempelajari cara untuk memperoleh laba secara maksimal
Laba    = Penjualan- Biaya
TI        = TR- TC
Cara menaikkan laba yaitu :
1.      Menaikkan resuvenue
2.      Menurunkan cost
Total cost merupakan variable endogen, variabel endogen adalah variabel yang paling mudah diatasi oleh manajer (managerable)
Total revenue merupakan variable exogen, variabel exogen adalah variable yang tidak bisa dimanage langsung oleh manajer (unmanagerable).
Tujuan ekonomi manajerial:
Tujuan Khusus:
•         Efektifitas dan Efisiensi Produksi
•         Pengaturan dan Strategi
•         Penyeimbangan Supply dan Demand
•         Peningkatan Penjualan
Tujuan Umum : Laba
LABA
Karakteristik Laba:
•         Laba merupakan tujuan akhir dari suatu perusahaan.
•         Laba merupakan sarana untuk menciptakan kesejahteraan bagi pihak-pihak yang terkait dengan perusahaan:
- Karyawan (kesejahteraan, pengetahuan, ketrampilan, dsb.)
- Negara (pajak)
- Investor (deviden, sehingga mau berinvestasi lagi)
- Masyarakat (melalui
CSR, ketersediaan lapangan kerja)
•         Laba menentukan multiplier effect pembangunan.
Peran Laba:
•         laba sebagai sumber pembiayaan, seperti:
-
peningkatan kualitas SDM
-perluasan produk
-perluasan pasar
-pembiayaan lainnya
•         laba sebagai ukuran pembayaran pajak
•         laba sebagai ukuran untuk membagi hasil usaha (deviden)
•         laba merupakan cerminan kesehatan operasional perusahaan.
•         laba sebagai sumber pembiayaan kesejahteraan.
•         laba sebagai sumber pembiayaan kepedulian perusahaan terhadap masyarakat dan lingkungannya.
Teori Memperoleh Laba:
•         Teori Pembuangan Resiko: jika resiko-resiko kerugian dapat dihindari.
•         Teori Friksi: Jika menang dalam mengambil kesempatan ketika friksi terjadi
•         Teori Monopoli: Jika memonopoli usaha.
•         Teori Inovasi: Jika inovasi lebih awal dibanding pesaingnya.
•         Teori Efisiensi: Jika efisien dalam operasionalnya.
•         Teori Kompensasi: jika mampu memuaskan konsumen, dan mempertahankan efisiensi.
Cara pengukuran laba optimum:
•         Menggunakan teknik optimasi:
- Teknik optimisasi dengan kalkulus (optimization with calculus).
-
Optimisasi Multivariate
-
Optimisasi Terkendala (constrained optimization)

•         Menggunakan Metode Lagrange Muliplier 
Referensi: Supawi Pawenang, 2016, Modul Akutansi Biaya UNIBA

Sabtu, 11 Juni 2016


NOVITA PUTRI UNTARI
2014-020-024

HARGA BAHAN BAKU

   Bahan baku adalah bahan yang digunakan dalam membuat produk di mana bahan tersebut secara menyeluruh tampak pada produk jadinya (atau merupakan bagian terbesar dari bentuk barang). Sedangkan biaya bahan baku adalah seluruh biaya untuk memperoleh sampai dengan bahan siap untuk digunakan yang meliputi harga bahan, ongkos angkut, penyimpanan dan lain–lain.

     Harga pokok bahan baku yang dibeli terdiri dari harga beli (harga yang tercantum dalam faktur pembelian) ditambah dengan biaya - biaya pembelian dan biaya - biaya yang terjadi untuk menyiapkan bahan baku tersebut dalam keadaan siap untuk diolah. Didalam praktek, pada umumnya harga pokok bahan baku yang dibeli hanya dicatat sebesar harga beli menurut faktur dari pemasok.

Penentuan Harga Pokok Bahan Baku yang Dipakai:
1. Metode material masuk pertama keluar pertama (FIFO)
2. Metode material masuk terakhir keluar pertama ( LIFO)
3. Metode rata-rata

Ada beberapa hal khusus yang berkaitan dengan biaya bahan yang terjadi pada proses produksi yaitu:
1. Sisa bahan
2. Produk rusak
3. Produk cacat

Pencatatan akutansi bahan baku
1. Pembelian bahan baku secara tunai
        Jurnal untuk mencatat transaksi pembelian bahan baku secara tunai adalah sebagai berikut:

Persediaan bahan baku Rp XX
Kas Rp XX

2. Pembelian bahan baku secara kredit
        Jurnal untuk mencatata transaksi pembelian bahan baku secara kredit adalah sebagai berikut: 

Persediaan bahan baku Rp XX
Utang Dagang Rp XX


Referensi: Supawi Pawenang, 2016, Modul Akutansi Biaya UNIBA
NOVITA PUTRI UNTARI
2014-020-024
PENYUSUTAN
Penyusutan merupakan metode untuk menghilangkan biaya atas aset tetap ( fix asset ).

                                1.  Tanggible Asset
Asset tetap =                                                        
                                 2.  Intangible Asset

Penyusutan dapat dibedakan menjadi 3 yaitu:

·         Depresiasi ( Depreciation )
Adalah penyusutan untuk asset tetap ( Tangible Asset ) non tanah, misalnya: penyusutan gedung, mesin, kendaraan, peralatan, dsb.

·         Deplesi ( Deplecion )
Adalah penyusutan untuk asset tetap berupa tanah atau tangible aset yang tidak terbarukan.

·         Amortisasi ( Amortisation )
Adalah penyusutan untuk asset tetap ( Intangible asset ), seperti : piutang, hak paten, dsb.

Tanah tidak dapat disusutkan karena harga tanah selalu naik, namun ada pula tanah yang bisa disusutkan yaitu contohnya adalah tanah pertambangan.

Metode Penyusutan:
11.      Metode menurun                                
22.      Metode Rata-rata (Flat)/ Garis Lurus
    
Dasar perhitungan penyusutan:
  • ·         Berdasarkan umur
  • ·         Berdasarkan produktivitas
  • ·         Berdasarkan rata- rata
  • ·         Berdasarkan utility

Manfaat penyusutan:
  • -          Menghitung nilai kegunaan
  • -          Perencanaan penggantian aktiva secara berkala
  • -          Untuk menentukan daya saing perusahaan/ strategi harga
  • -          Untuk mengatur strategi laba.

 Referensi: Supawi Pawenang, 2016, Modul Akutansi Biaya UNIBA



Kamis, 02 Juni 2016

NOVITA PUTRI UNTARI
2014-020-024
ALUR PEMBELIAN KEBUTUHAN ALAT TULIS KANTOR

Berikut adalah alur pembelian kebutuhan alat tulis kantor di departemen Accounting:
  1. Purchasing akan mendata alat tulis yang stocknya telah habis, kemudian purchasing mengisi form Purchase Request. Contoh :

2.   Purchase Request yang sudah di tulis dan ditandatangi oleh purchasing akan diajukan ke Manajer Accounting untuk di cek dan disetuji.
Contoh :
3. Purchase Request yang sudah disetujui oleh Manajer Ccounting kemudian diajukan ke Manajer Operasional untuk di setujui.
Contoh :
4.  Purchase Request yang sudah disetujui oleh Manajer Accounting dan Manajer Operasinal kemudian diserahkan ke Purchasing untuk di Orderkan ke Supplier.

5.  Purchasing order ke Supplier dan menjadwalkan kedatangan alat tulis

6. Alat tulis datang dan diterima serta di cek langsung oleh purchasing.
Contoh:
7. Purchasing menerima tagihan kemudian tagihan akan diteruskan ke Manajer Accounting dengan dilampiri form Account Payable.

8.  Account Payable akan disetujui dan ditandatangani oleh Manajer Accounting
9. Kemudian Account payable akan diteruskan ke Manajer Operasional untuk Disetujui dan Ditandatangani.
Contoh:
10. Setelah Ditandatangi Manajer Operasional, Manajer Accounting akan menjadwalkan pencairan dana untuk pembayaran supplier tersebut.

11.  Setelah dana cair, supplier akan mengambil uangnya melalui Purchasing dan akan memberikan nota/ kwitansi tanda Lunas.
Contoh:


Demikian alur pembelian dan pembayaran supplier di kantor.

Referensi: Supawi Pawenang, 2016, Modul Akutansi Biaya UNIBA

Kamis, 07 April 2016

NOVITA PUTRI UNTARI
2014 020 043
BIAYA OVERHEAD PABRIK
Biaya overhead Pabrik merupakan biaya produksi selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. Biaya overhead pabrik meliputi biaya-biaya sebagai berikut:
1.      Biaya bahan penolong
2.      Biaya reparasi dan pemeliharaan
3.      Biaya tenaga kerja tidak langsung
4.      Biaya yang timbul akibat penilaian aktiva tetap (seperti: depresiasi)
5.      Biaya yang timbul akibat berlalunya waktu (seperti: asuransi)
6.      Biaya yang langsung memerlukan pembayaran tunai (seperti: listrik)
Hubungan OHP dengan Perubahan Volume Produksi:
a. Biaya overhead pabrik tetap, yakni biaya overhead pabrik yang tidak berubah meskipun terjadi perubahan dalam volume produksi.
b. Biaya overhead pabrik variabel, yakni biaya overhead pabrik yang berubah sebanding dengan perubahan volume produksi.
c. Biaya overhead pabrik semivariabel, yakni biaya overhead pabrik yang berubah namun tidak sebanding dengan perubahan volume produksi. Untuk memudahkan penentuan tarif biaya overhead pabrik, biasanya biaya overhead pabrik semivariabel akan dipecah menjadi dua unsur yakni biaya tetap dan biaya variabel.

Penggolongan OHP menurut Hubungan departemen
a. Biaya overhead pabrik langsung departemen (direct departemental overhead expenses), yakni biaya overhead pabrik yang ada dalam sebuah departemen dan manfaatnya hanya dapat dinikmati oleh departemen tersebut.
b. Biaya overhead pabrik tidak langsung departemen (indirect departemental overhead expenses), yakni biaya overhead pabrik yang manfaatnya dapat dinikmati oleh lebih dari satu departemen.
Pembebanan OHP kepada produk atas dasar tarif ditentukan di muka (pesanan) Alasannya biaya sering kali berubah, karena:
1. perubahan tingkat produksi
2. perubahan tingkat efisiensi
3. Perubahan biaya yang sporadik (tidak merata)
4. Perubahan siklus
Langkah-langkah Penentuan Tarif OHP
1. Menyusun Anggaran Pabrik, mempertimbangkan:
- Kapasitas teoritis
- Kapasitas normal
- Kapasitas sesungguhnya
2. Memilih dasar pembebanan
3. Menghitung Tarif









Referensi: Supawi Pawenang, 2016, Modul Akutansi Biaya UNIBA
uniba.ac.id