Selasa, 25 Oktober 2016

NOVITA PUTRI UNTARI
2014-020-043
EKONOMI MANAJERIAL
Ekonomi manajerial adalah ilmu ekonomi yang mempelajari cara untuk memperoleh laba secara maksimal
Laba    = Penjualan- Biaya
TI        = TR- TC
Cara menaikkan laba yaitu :
1.      Menaikkan resuvenue
2.      Menurunkan cost
Total cost merupakan variable endogen, variabel endogen adalah variabel yang paling mudah diatasi oleh manajer (managerable)
Total revenue merupakan variable exogen, variabel exogen adalah variable yang tidak bisa dimanage langsung oleh manajer (unmanagerable).
Tujuan ekonomi manajerial:
Tujuan Khusus:
         Efektifitas dan Efisiensi Produksi
         Pengaturan dan Strategi
         Penyeimbangan Supply dan Demand
         Peningkatan Penjualan
Tujuan Umum : Laba
LABA
Karakteristik Laba:
         Laba merupakan tujuan akhir dari suatu perusahaan.
         Laba merupakan sarana untuk menciptakan kesejahteraan bagi pihak-pihak yang terkait dengan perusahaan:
- Karyawan (kesejahteraan, pengetahuan, ketrampilan, dsb.)
- Negara (pajak)
- Investor (deviden, sehingga mau berinvestasi lagi)
- Masyarakat (melalui
CSR, ketersediaan lapangan kerja)
         Laba menentukan multiplier effect pembangunan.
Peran Laba:
         laba sebagai sumber pembiayaan, seperti:
-
peningkatan kualitas SDM
-perluasan produk
-perluasan pasar
-pembiayaan lainnya
         laba sebagai ukuran pembayaran pajak
         laba sebagai ukuran untuk membagi hasil usaha (deviden)
         laba merupakan cerminan kesehatan operasional perusahaan.
         laba sebagai sumber pembiayaan kesejahteraan.
         laba sebagai sumber pembiayaan kepedulian perusahaan terhadap masyarakat dan lingkungannya.
Teori Memperoleh Laba:
         Teori Pembuangan Resiko: jika resiko-resiko kerugian dapat dihindari.
         Teori Friksi: Jika menang dalam mengambil kesempatan ketika friksi terjadi
         Teori Monopoli: Jika memonopoli usaha.
         Teori Inovasi: Jika inovasi lebih awal dibanding pesaingnya.
         Teori Efisiensi: Jika efisien dalam operasionalnya.
         Teori Kompensasi: jika mampu memuaskan konsumen, dan mempertahankan efisiensi.
Cara pengukuran laba optimum:
         Menggunakan teknik optimasi:
- Teknik optimisasi dengan kalkulus (optimization with calculus).
-
Optimisasi Multivariate
-
Optimisasi Terkendala (constrained optimization)

         Menggunakan Metode Lagrange Muliplier 
Referensi: Supawi Pawenang, 2016, Modul Akutansi Biaya UNIBA

Sabtu, 11 Juni 2016


NOVITA PUTRI UNTARI
2014-020-024

HARGA BAHAN BAKU

   Bahan baku adalah bahan yang digunakan dalam membuat produk di mana bahan tersebut secara menyeluruh tampak pada produk jadinya (atau merupakan bagian terbesar dari bentuk barang). Sedangkan biaya bahan baku adalah seluruh biaya untuk memperoleh sampai dengan bahan siap untuk digunakan yang meliputi harga bahan, ongkos angkut, penyimpanan dan lain–lain.

     Harga pokok bahan baku yang dibeli terdiri dari harga beli (harga yang tercantum dalam faktur pembelian) ditambah dengan biaya - biaya pembelian dan biaya - biaya yang terjadi untuk menyiapkan bahan baku tersebut dalam keadaan siap untuk diolah. Didalam praktek, pada umumnya harga pokok bahan baku yang dibeli hanya dicatat sebesar harga beli menurut faktur dari pemasok.

Penentuan Harga Pokok Bahan Baku yang Dipakai:
1. Metode material masuk pertama keluar pertama (FIFO)
2. Metode material masuk terakhir keluar pertama ( LIFO)
3. Metode rata-rata

Ada beberapa hal khusus yang berkaitan dengan biaya bahan yang terjadi pada proses produksi yaitu:
1. Sisa bahan
2. Produk rusak
3. Produk cacat

Pencatatan akutansi bahan baku
1. Pembelian bahan baku secara tunai
        Jurnal untuk mencatat transaksi pembelian bahan baku secara tunai adalah sebagai berikut:

Persediaan bahan baku Rp XX
Kas Rp XX

2. Pembelian bahan baku secara kredit
        Jurnal untuk mencatata transaksi pembelian bahan baku secara kredit adalah sebagai berikut: 

Persediaan bahan baku Rp XX
Utang Dagang Rp XX


Referensi: Supawi Pawenang, 2016, Modul Akutansi Biaya UNIBA
NOVITA PUTRI UNTARI
2014-020-024
PENYUSUTAN
Penyusutan merupakan metode untuk menghilangkan biaya atas aset tetap ( fix asset ).

                                1.  Tanggible Asset
Asset tetap =                                                        
                                 2.  Intangible Asset

Penyusutan dapat dibedakan menjadi 3 yaitu:

·         Depresiasi ( Depreciation )
Adalah penyusutan untuk asset tetap ( Tangible Asset ) non tanah, misalnya: penyusutan gedung, mesin, kendaraan, peralatan, dsb.

·         Deplesi ( Deplecion )
Adalah penyusutan untuk asset tetap berupa tanah atau tangible aset yang tidak terbarukan.

·         Amortisasi ( Amortisation )
Adalah penyusutan untuk asset tetap ( Intangible asset ), seperti : piutang, hak paten, dsb.

Tanah tidak dapat disusutkan karena harga tanah selalu naik, namun ada pula tanah yang bisa disusutkan yaitu contohnya adalah tanah pertambangan.

Metode Penyusutan:
11.      Metode menurun                                
22.      Metode Rata-rata (Flat)/ Garis Lurus
    
Dasar perhitungan penyusutan:
  • ·         Berdasarkan umur
  • ·         Berdasarkan produktivitas
  • ·         Berdasarkan rata- rata
  • ·         Berdasarkan utility

Manfaat penyusutan:
  • -          Menghitung nilai kegunaan
  • -          Perencanaan penggantian aktiva secara berkala
  • -          Untuk menentukan daya saing perusahaan/ strategi harga
  • -          Untuk mengatur strategi laba.

 Referensi: Supawi Pawenang, 2016, Modul Akutansi Biaya UNIBA



Kamis, 02 Juni 2016

NOVITA PUTRI UNTARI
2014-020-024
ALUR PEMBELIAN KEBUTUHAN ALAT TULIS KANTOR

Berikut adalah alur pembelian kebutuhan alat tulis kantor di departemen Accounting:
  1. Purchasing akan mendata alat tulis yang stocknya telah habis, kemudian purchasing mengisi form Purchase Request. Contoh :

2.   Purchase Request yang sudah di tulis dan ditandatangi oleh purchasing akan diajukan ke Manajer Accounting untuk di cek dan disetuji.
Contoh :
3. Purchase Request yang sudah disetujui oleh Manajer Ccounting kemudian diajukan ke Manajer Operasional untuk di setujui.
Contoh :
4.  Purchase Request yang sudah disetujui oleh Manajer Accounting dan Manajer Operasinal kemudian diserahkan ke Purchasing untuk di Orderkan ke Supplier.

5.  Purchasing order ke Supplier dan menjadwalkan kedatangan alat tulis

6. Alat tulis datang dan diterima serta di cek langsung oleh purchasing.
Contoh:
7. Purchasing menerima tagihan kemudian tagihan akan diteruskan ke Manajer Accounting dengan dilampiri form Account Payable.

8.  Account Payable akan disetujui dan ditandatangani oleh Manajer Accounting
9. Kemudian Account payable akan diteruskan ke Manajer Operasional untuk Disetujui dan Ditandatangani.
Contoh:
10. Setelah Ditandatangi Manajer Operasional, Manajer Accounting akan menjadwalkan pencairan dana untuk pembayaran supplier tersebut.

11.  Setelah dana cair, supplier akan mengambil uangnya melalui Purchasing dan akan memberikan nota/ kwitansi tanda Lunas.
Contoh:


Demikian alur pembelian dan pembayaran supplier di kantor.

Referensi: Supawi Pawenang, 2016, Modul Akutansi Biaya UNIBA

Kamis, 07 April 2016

NOVITA PUTRI UNTARI
2014 020 043
BIAYA OVERHEAD PABRIK
Biaya overhead Pabrik merupakan biaya produksi selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. Biaya overhead pabrik meliputi biaya-biaya sebagai berikut:
1.      Biaya bahan penolong
2.      Biaya reparasi dan pemeliharaan
3.      Biaya tenaga kerja tidak langsung
4.      Biaya yang timbul akibat penilaian aktiva tetap (seperti: depresiasi)
5.      Biaya yang timbul akibat berlalunya waktu (seperti: asuransi)
6.      Biaya yang langsung memerlukan pembayaran tunai (seperti: listrik)
Hubungan OHP dengan Perubahan Volume Produksi:
a. Biaya overhead pabrik tetap, yakni biaya overhead pabrik yang tidak berubah meskipun terjadi perubahan dalam volume produksi.
b. Biaya overhead pabrik variabel, yakni biaya overhead pabrik yang berubah sebanding dengan perubahan volume produksi.
c. Biaya overhead pabrik semivariabel, yakni biaya overhead pabrik yang berubah namun tidak sebanding dengan perubahan volume produksi. Untuk memudahkan penentuan tarif biaya overhead pabrik, biasanya biaya overhead pabrik semivariabel akan dipecah menjadi dua unsur yakni biaya tetap dan biaya variabel.

Penggolongan OHP menurut Hubungan departemen
a. Biaya overhead pabrik langsung departemen (direct departemental overhead expenses), yakni biaya overhead pabrik yang ada dalam sebuah departemen dan manfaatnya hanya dapat dinikmati oleh departemen tersebut.
b. Biaya overhead pabrik tidak langsung departemen (indirect departemental overhead expenses), yakni biaya overhead pabrik yang manfaatnya dapat dinikmati oleh lebih dari satu departemen.
Pembebanan OHP kepada produk atas dasar tarif ditentukan di muka (pesanan) Alasannya biaya sering kali berubah, karena:
1. perubahan tingkat produksi
2. perubahan tingkat efisiensi
3. Perubahan biaya yang sporadik (tidak merata)
4. Perubahan siklus
Langkah-langkah Penentuan Tarif OHP
1. Menyusun Anggaran Pabrik, mempertimbangkan:
- Kapasitas teoritis
- Kapasitas normal
- Kapasitas sesungguhnya
2. Memilih dasar pembebanan
3. Menghitung Tarif









Referensi: Supawi Pawenang, 2016, Modul Akutansi Biaya UNIBA
uniba.ac.id

Selasa, 29 Maret 2016

NOVITA PUTRI UNTARI
2014-020-043
CONTOH SOAL:
Suatu pabrik semen memproduksi semen dengan rincian sebagai berikut:
-          Bya bahan baku Rp 5.000,- sudah terpakai 100%
-          Bya bahan penolong Rp 7.500.- sudah terpakai 100%
-          Bya tenaga kerja Rp 11.250,- sudah terpakai 50%
-          Bya OHP Rp 16.125,- sudah terpakai 30%
-          Total produk jadi sebanyak 2000 kg
-          Total produk dalam proses 500 kg
Bagaimana cara melaporkan biayanya?
JAWAB:
HPP barang jadi
Item biaya
Jumlah biaya
ekuivalen
Biaya persatuan produk
B.  bahan baku
5.000
2.500
2.000
B. B. Penolong
7.500
2.500
3.000
B. T. Kerja
11.250
2.250
5.000
B. OHP
16.125
2.150
7.500

39.875

17.500
Maka, harga pokok produksi barang jadi        = 2.000X 17.500
                                                                        = 35.000
Jurnal
Biaya bahan baku
D. BDP-BBB              5.000
                        K.Persd BB     5.000
Biaya bahan penolong
D.BDP-BBB               7.500
                        K.persd. BP    7.500
Upah tenaga kerja
D.BDP-BBP               11.250
                        K.gaji & upah  11.250
Biaya over head pabrik
D.BDP-BOHP                        16.250
                        K.BOP                        16.125
Perhitungan HPP dalam proses
Harga pokok dalam proses
Rp
B.B.B
100% X 500X 2000
1.000
B.B. P.
100% X 500X 3000
1.500
B.T.K.
50% X 500 X 5000
1.250
B.O.H.P.
30% X 500 X 7500
1.125
Jumlah
4.875
Maka, harga pokok produksi total      = 35.000 X 4.875
                                                            = 39.875
Jurnal HPP barang jadi
D . persediaan barang jadi      35.000
            K . BDP-BB               4.000
            K . BDP- BBP                        6.000
            K. BTK                       10.000
            K. OHP                       15.000
Jurnal HPP barang dalam proses
D. persediaan- BDP                4.875
            K. BDP-BB                1.000
            K. BDP-BBP              1.500
            K. BTK                       1.250
            K. OHP                       1.125

Referensi: Supawi Pawenang, 2016, Modul Akutansi Biaya UNIBA
uniba.ac.id